This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 22 Februari 2015

Budi daya tanaman cabe dan terong

A.   Tanaman Cabai
             Cabai pada dasarnya terbagi atas dua golongan utama, yaitu cabai besar (Capsicum annum L.) dan cabai rawit (Capsicum frutescens L.) Cabai besar terbagi menjadi dua golongan, yaitu cabai pedas (hot pepper) dan cabai paprika (sweet pepper).
1.   Morfologi Tanaman Cabe
           Cabai termasuk tanaman semusim (annual) yang berbentuk perdu, tumbuh tegak dengan batang berkayu dan bercabang banyak. Tinggi tanaman dewasa antara 65–170 cm dan lebar tajuk 50–100 cm.
           Dalam dunia tumbuh-tumbuhan (Plantarum), tanaman ini tergolong dalam tumbuhan yang menghasilkan biji (Spermatophyta). Biji cabai tertutup oleh kulit buah sehingga termasuk dalam golongan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae). Lembaga pada bijinya terbagi dalam dua daun lembaga, sehingga dimasukkan dalam kelas tumbuhan berbiji belah (Dicotyledoneae). Hiasan bunga cabai termasuk lengkap, yaitu terdiri atas kelopak dan mahkota, dengan daun-daun mahkota yang berlekatan menjadi satu, sehingga dimasukkan dalam sub-kelas Sympetalae. Cabai termasuk dalam keluarga terung-terungan (Solanaceae).
a)    Akar Cabe
Perakaran cabai merupakan akar tunggang yang terdiri atas akar utama (primer) dan akar laterl (sekunder). Dari akar lateral keluar serabut-serabut akar (akar tersier). Panjang akar primer tanaman berkisar 35–50 cm. Akar lateral menyebar dengan panjang berkisar 35–45 cm.
b)    Batang Cabe
            Batang utama tanaman tegak lurus dan kokoh, tinggi sekitar 30–40 cm, dan diameter batang sekitar 1,5–3,0 cm. Batang utama tanaman berkayu dan berwarna cokelat kehijauan. Pada budidaya cabai intensif pembentukan kayu pada batang utama mulai terjadi pada umur 30–40 hari setelah tanam (HST). Pada setiap ketiak daun cabai akan tumbuh tunas baru yang dimulai pada umur 10–15 HST
c)    Daun Cabe
            Daun cabai berwarna hijau muda sampai gelap. Daun ditopang oleh tangkai daun. Tulang daun cabe berbentuk menyirip. Secara keseluruhan bentuk daun cabai besar adalah lonjong dengan ujung daun tanaman meruncing

2.    Klasifikasi Tanaman Cabe
  • Kingdom       : Plantae (Tumbuhan)
  • Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
  • Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
  • Divisi             : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
  • Kelas            : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
  • Sub Kelas    : Asteridae
  • Ordo              : Solanales
  • Famili            : Solanaceae (suku terung-terungan)
  • Genus           : Capsicum
  • Spesies        : Capsicum annum L.

3. Budi Daya Tanaman Cabe
       Langkah-langkah budi daya tanaman cabai
Carilah bibit yang berasal dari tanaman induk berkualitas. Sebelum membuat bibit cabai, sebaiknya menentukan tanaman yang akan dijadikan sebagai induk. Tanaman induk harus memiliki kriteria sebagai tanaman unggul, seperti pertumbuhan cepat, vigor, mampu beradaptasi di berbagai lingkungan, memiliki daya tahan yang baik terhadap serangan hama penyakit, responsif terhadap pemupukan, mampu berproduksi tinggi, serta menghasilkan buah dengan kriteria yang dikehendaki.
Syarat-syarat bibit
1.    Bibit harus dihasilkan dari buah yang benar-benar sudah tua, sehingga akan diperoleh biji yang benar-benar berkualitas.
2.    Carilah bibit yang berasal dari tanaman induk berkualitas. Sebelum membuat bibit cabai, sebaiknya menentukan tanaman yang akan dijadikan sebagai induk. Tanaman induk harus memiliki kriteria sebagai tanaman unggul, seperti pertumbuhan cepat, vigor, mampu beradaptasi di berbagai lingkungan, memiliki daya tahan yang baik terhadap serangan hama penyakit, responsif terhadap pemupukan, mampu berproduksi tinggi, serta menghasilkan buah dengan kriteria yang dikehendaki.
3.    Memiliki daya kecambah yang bagus.
4.    Bibit harus memiliki pertumbuhan yang bagus selama dalam persemaian. Bibit dengan pertumbuhan bagus akan menghasilkan tanaman yang subur, sedangkan bibit yang mengalami keterlambatan pertumbuhan selama dalam persemaian, maka laju pertumbuhan setelah penanaman di lahan akan mengalami keterlambatan.
5.    Pilih bibit yang sehat, tidak terserang hama penyakit.
       Persiapan Lahan
Kondisi iklim di Indonesia cocok untuk budidaya cabe dimana matahari bersinar penuh.
Tanaman ini bisa tumbuh dengan baik di dataran rendah hingga ketinggian 1400 meter dpl. Di dataran tinggi, cabe masih bisa tumbuh namun produksinya tidak maksimal.
Suhu yang optimal untuk pertumbuhan cabe merah, antara 24-28 derajat Celcius. Pada suhu yang terlalu dingin dibawah 15 atau panas diatas 32 pertumbuhan akan terganggu. Cabe bisa tumbuh pada musim kemarau asal mendapatkan pengairan yang cukup. Curah hujan yang dikehendaki berkisar 800-2000 mm per tahun dengan kelembaban 80%.
Budidaya cabe merah menghendaki tanah yang memiliki tingkat keasaman tanah pH 6-7. Apabila nilainya terlalu rendah (asam), daun tanaman cabe merah akan terlihat pucat dan mudah terserang virus. Tanah yang asam biasanya mudah ditumbuhi ilalang. Untuk menetralisirnya bisa gunakan kapur pertanian atau dolomit sebanyak 2-4 ton/ha. Pemberian kapur atau dolomit dilakukan pada saat pembajakan dan pembuatan bedengan.
       Persiapan pupuk
Campurkan pupuk organik, bisa berupa kompos atau pupuk kandang pada setiap bedengan secara merata. Kebutuhan pupuk organik untuk budidaya cabe merah adalah 20 ton per hektar. Selain pupuk organik tambahkan juga urea 350 kg/ha dan KCl 200kg/ha.

B.   Terong
Terung (Solanum melongena, di Pulau Jawa lebih dikenal sebagai terong) adalah tumbuhan penghasil buah yang dijadikan sayur-sayuran. Asalnya adalah India dan Sri Lanka. Terung berkerabat dekat dengan kentang, leunca, dan agak jauh dari tomat.Terung ialah terna yang sering ditanam secara tahunan.
Terong merupakan anggota Solanaceae, buah terung pernah dianggap beracun, sebagaimana buah beberapa varietas leunca dan kentang. Sementara buah terung dapat dimakan tanpa dampak buruk apa pun bagi kebanyakan orang, sebagian orang yang lain, memakan buah terung (serupa dengan memakan buah terkait seperti tomat, kentang, dan merica hijau atau lada) bisa berpengaruh pada kesehatan. Sebagian buah terung agak pahit dan mengiritasi perut serta mengakibatkan gastritis. Karena itulah, sebagian sumber, khususnya dari kalangan kesehatan alami, mengatakan bahwa terung dan genus terkait dapat mengakibatkan atau memperburuk artritis dengan kentara dan justru itu, harus dijauhi oleh mereka yang peka terhadapnya.
1.   Morfologi Terong
a.     Akar
Terong memiliki sistem perakaran tunggang hal ini dapat dilihat dengan jelas dimana bagin-bagian batang akar/akar pokok, cabang akar, serabut akar dan rambut-rambut akar. Terong dikatakan akar tunggang karena pada terong akar primernya tumbuh terus menjadi akar pokok , pada akar ini kemudian tumbuh cabang-cabang dan serabut akar.
b.    Batang
Batang terong bercabang banyak dan berbulu agak kasar, batangnya agak keras dan kekar.
c.    Daun
Daun Terong merupakan daun tidak lengkap karena tidak mempunyai upih daun. Bangun daun (Circum scription) merupakan bangun bulat telur (ovatus). Ujung daun (apex folii) termasuk ujung daun yang runcing (acutus) karena tepi daun di kanan kiri ibu tulang sedikit demi sedikit menuju ke atas dan pertemuannya pada puncak daun membentuk suatu sudut lancip. Pangkal daun (Basis folii) termasuk berlekuk (emargiratus). Susunan tulang daun (venation) termasuk ke dalam susunan tulang daun yang menyirip karena mempunyai satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung, dan merupakan terusan tangkai daun.
Tepi daun (Margo folii) yaitu berombak (repandus) karena sinus dan angulusnya sama-sama tumpul dan jika dilihat dari torehan yang tidak merdeka termasuk berlekuk menjari. Daging daun (intervenium) termasuk tipis seperti selaput. Warna daun pada daun terong (Solanum melongena) yaitu hijau tua. Permukaan daunnya yaitu berbulu halus dan rapat ( villosus ).

d.    Bunga
Jumlah bunga terong dalam satu tandang banyak. Umumnya bunga berwarna ungu tapi adapula berwarna putih.

e.    Buah
buah tanaman terong tunggal. Berntuk buah beragam, diantaranya ada bulat lonjong atau bulat panjang. Warna buahnya ungu tapi adapula yang putih dan hijau bergaris putih setelah tua, buah berwarna kekuningan dan berbiji banyak

Klasifikasi Terung
ž  Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
ž  Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
ž  Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
ž  Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
ž  Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
ž  Sub Kelas : Asteridae
ž  Ordo : Solanales
ž  Famili : Solanaceae (suku terung-terungan)
ž  Genus : Solanum
ž  Spesies : Solanum melongena L.

Budi daya tanaman Terung
Kondisi tanah ideal untuk budidaya terong adalah tanah lempung berpasir dengan kisaran pH 6,5-7. Terong berproduksi maksimal pada kisaran suhu 22-30oC. Tanaman ini membutuhkan sinar matahari yang cukup, oleh karena itu cocok ditanam pada musim kemarau.
Langkah-langkah
1.    Menyemai Benih
Benih yang baik untuk budidaya terong memilki daya tumbuh di atas 75%. Dengan benih seperti itu, kebutuhan benih untuk satu hektar mencapai 300-500 gram. Sebelum ditanam di lahan terbuka, benih terong sebaiknya disemaikan terlebih dahulu.
2.    Mengolah tanah dan menanam
Lahan untuk budidaya terong dicangkul atau dibajak dengan kedalaman 30 cm. Bersihkan tanah dari gulma dan kerikil. Bentuk bedengan dengan lebar 1 meter tinggi 30 cm dan panjang disesuaikan dengan bentuk lahan. Jarak antar bedengan 40 cm.
Gunakan pupuk organik sebagai pupuk dasar, bisa berupa kompos atau pupuk kandang sebanyak 15 ton per hektar. Taburkan di atas bedengan dan aduk hingga merata. Budidaya terong menghendaki tingkat keasaman tanah sekitar pH 5-6. Apabila pH kurang dari 5 tambahkan kapur pertanian atau dolomit sebanyak 1-2 ton per hektar satu minggu sebelum tanam.
Buat lubang tanam secara berbaris, satu bedengan sebanyak dua baris. Jarak tanam antar lubang tanam 60 cm dan jarak antar baris 70 cm. Lebar lubang dan kedalaman disesuaikan dengan ukuran polybag bibit.
Sebelum bibit dipindahkan, siram bedengan dengan air. Tanaman terong cenderung tidak tahan dengan kekeringan. Pindahkan bibit tanaman satu lubang diisi satu bibit tanaman. Hati-hati dalam memindahkan tanaman, jaga agar akar tanamah tidak putus atau rusak.

3.    Merawat terong yang sudah ditanam
Lakukan penyulaman tanaman setelah satu minggu. Cabut tanaman yang terlihat layu atau tidak sehat dan pertumbuhannya abnormal. Pencabutan dilakukan beserta media tumbuhnya. Ganti dengan bibit baru.
Pemupukan tambahan dilakukan mulai dari 2 minggu setelah bibit ditanam. Untuk budidaya terong non-organik berikan pupuk urea dengan dosis 80 kg/ha dan KCl 45 Kg/ha. Sedangkan untuk budidaya terong organik berikan pupuk kompos atau pupuk kandang, masing-masing satu kepal atau kira-kira 0,5 kg per tanaman
Ulangi pemberian pupuk susulan pada minggu ke-5 dan ke-7 setelah bibit ditanam. Sambil memberikan pupuk susulan, siangi gulma yang terdapat dalam bedengan tanaman. Bersihkan juga semak belukar yang terdapat disekitar area tanaman.
Apabila tidak turun hujan penyiraman hendaknya dilakukan setiap tiga hari sampai tanaman berbunga. Setelah tanaman berbunga, tingkatkan frekuensinya hingga dua hari sekali.
4.    Pemanenan
Panen pertama usaha budidaya terong biasanya dilakukan setelah 70-80 hari sejak bibit ditanam. Selanjutnya, panen dilakukan setiap 3-7 hari sekali. Dalam satu kali musim tanam, bisa mencapai 13-15 kali panen, bahkan bisa lebih.
Waktu yang tepat untuk panen adalah pagi dan sore hari. Buah dipetik dengan tangkainya, buah terung tidak tahan lama. Oleh karena itu harus segera dipasarkan begitu selesai panen. Sortasi untuk budidaya terong dilakukan berdasarkan ukuran dan warna buah.

“Dan bahwasanya seseorang itu tidak akan memperoleh (kebaikan) kecuali dari hasil usahanya sendiri.” (QS. An Najm: 39).

Jumat, 13 Februari 2015

Ujian Praktik Biologi SMA 1 Metro

Foto: Siswa kelas 12 IPA yang sedang ujian praktik

Jumat, 23 Januari 2015

PENGARUH METODE PEMBELAJARAN DAN PENCAPAIAN KKM TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI PADA SISWA SMA NEGERI 1 METRO SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2013/1014

PENGARUH METODE PEMBELAJARAN DAN PENCAPAIAN KKM   TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI PADA SISWA SMA NEGERI 1 METRO SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2013/1014
Sugiyono Universitas Muhammadiyah Metro Lampung
e-mail:sugiyono9921@yahoo.com
Abstrak,tujuan penelitian ini untuk mengetahui (1) pengaruh metode pembelajaran quantum terhadap hasil belajar biologi siswa, (2) pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dan pencapaian KKM  terhadap hasil belajar biologi, (3) pengaruh  metode pembelajaran quantum terhadap hasil belajar biologi siswa yang mencapai KKM  tanpa remidi, (4) pengaruh pembelajaran konvensional  terhadap hasil belajar biologi siswa yang mencapai KKM dengan remidi. Penelitian  dilakukan dengan eksperimen, dengan rancangan faktorial 2 x 2. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Negeri I  Kota Metro Tahun Pelajaran 2013/2014. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik sratified random sampling. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varian dua arah. Dari analisis data diperoleh bahwa, (1) penggunaan metode pembelajaran quantum memperoleh hasil belajar biologi yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional, (2) terdapat pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dan pencapaian KKM terhadap hasil belajar biologi siswa, (3) siswa yang pencapaian KKM tanpa remidi yang pembelajarannya dengan metode quantum tidak menghasilkan hasil belajar yang lebih tinggi dari pada dengan metode konvensional, (4) siswa yang pencapaian KKM dengan  remidi yang pembelajarannya dengan metode quantum menghasilkan hasil belajar lebih tinggi dari pada dengan metode konvensional. Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar biologi siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan metode quantum lebih tinggi dari pada siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional. Tetapi pada kelompok siswa yang pencapaian KKM tanpa remidi tidak menunjukkan hasil belajar biologi yang lebih tinggi.

Kata Kunci: metode pembelajaran , kriteria ketuntasan minimal, hasil belajar 

Foto Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan belajar dengan metode konvensional

Kegiatan belajar dengan metode konvensional

Kegiatan belajar dengan metode konvensional

Kegiatan belajar dengan metode konvensional

Kegiatan belajar dengan metode Quantum

Kegiatan belajar dengan metode Quantum

Kegiatan belajar dengan metode Quantum

Kegiatan belajar dengan metode Quantum

Rabu, 12 November 2014

TAUTAN DAN PINDAH SILANG

TUJUAN:
1.    Menjelaskan gen gen yang dapat mengalami tautan
2.    Menentukan macam gen serta keturunannya jika terjadi tautan
3.    Menjelaskan sebab terjadinya pindah silang
4.    Menghitung Nilai pindah silang
5.    Mengidentifikasi gen-gen yang mengalami tautan atau bebas

Keberadaan gen-gen dalam kromosom pada individu yang bergenotip AaBb dapat sebagai berikut.
A. Individu I bergenotip AaBb
                      


      
Jawablah pertanyaan berikut!
1.    Jelaskan keberadaan gen pada tiga individu diatas!
2.    Tuliskan macam gamet yang dapat dibentuk oleh individu I !, Bagaimana perbandingannya? Jelaskan terbentuknya berbandingan tersebut!
3.    Individu II juga dapat menghasilkan macam gamet seperti individu I.Tetapi apakah membentuk perbadingan yang sama? Jelaskan terbentuknya berbandingan tersebut!
4.    Individu III juga dapat menghasilkan macam gamet seperti individu I.Tetapi apakah membentuk perbadingan yang sama? Jelaskan terbentuknya berbandingan tersebut!
5.    Belalang jantan berbadan hijau sayap panjang (HhPp) dikawinkan dengan betina berbadan coklat sayap pendek (hhpp). Dan hasil perkawinan tersebut diperoleh fenotif keturunan sebagai berikut:
hijau sayap panjang : hijau sayap pendek : coklat sayap panjang : coklat sayap pendek
dengan hasil 78 : 30 : 20 : 73.
Apakah perbandingan itu mengikuti kententuan Mendel? Buktikan dengan membuat bagan persilangan. Buatlah penjelasan penyebab terbentuknya perbandingan seperti itu!
6.    Test cross anatara indvidu batang tinggi buah besar dengan batang pendek buah kecil menghasilkan:
a.    Batang tinggi buah besar = 100
b.    Batang tinggi buah kecil = 300
c.    Batang pendek buah besar = 300
d.    Batang pendek buah kecil = 100
Gambarkan posisi gen penentu sifat tersebut dalam korosom!
Individu mana yang terbentuk karena pindah silang? Nyatakan dalam %! .......( Nilai Pindah Silang)

Jumat, 07 November 2014

PEMANFAATAN EMAIL DALAM MENUNJANG PROSES PEMBELAJARAN

Pengadimistrasian kegiatan belajar siswa sering dianggap sebagai beban bagi siswa maupun guru di sekolah. Indikasi dari keadaan ini adalah kurang teraturnya buku atau lembaran yang memuat dokumen kegiatan belajar pada kebanyakan guru. Keadaan ini akan berakibat tidak validnya catatan kondisi siswa sebagai subyek belajar dan lebih lanjut akan memberikan pengaruh negatif terhadap hasil belajar. Hal ini dapat dilihat dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru mata pelajaran terhadap materi ajar yang yang sudah dilewati, baik pada ranah kognitif, afektif maupun psikomotor. Hasil evaluasi pada ranah kognitif  melalui ulangan harian ataupun ujian blok selalu ditemukan sejumlah siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar, sehingga harus mengikuti pembelajaran remidial. Jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran remidial menjadi semakin banyak pada ujian blok yang memuat lebih banyak kompetensi dasar.

Belajar kelompok (dokumentasi pribadi)
Inovasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara periodik telah dilakukan dengan penyempurnaan kurikulum yang terus dilakukan untuk memberi ruang yang lebih fleksibel dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan prinsip bahwa setiap siswa dapat menyelesaikan beban belajarnya, maka konsep belajar tuntas sudah di terapkan sejak digunakan kurikulum satuan pendidikan. Pada kurikulum pendidikan tahun 2013 beban belajar dinyatakan dalam Sistem Kredit Semester (SKS)

Beban belajar dengan SKS memberi kemungkinan untuk menggunakan cara yang lebih variatif dan fleksibel sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minat peserta didik. Oleh karena itu, penerapan SKS diharapkan bisa mengakomodasi kemajemukan potensi peserta didik. Melalui SKS, peserta didik juga dimungkinkan untuk menyelesaikan program pendidikannya lebih cepat dari periode belajar yang ditentukan dalam setiap satuan pendidikan. SKS dalam Standar Isi diartikan sebagai sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistem kredit semester dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). Beban belajar satu sks meliputi satu jam pembelajaran tatap muka, satu jam penugasan terstruktur, dan satu jam kegiatan mandiri tidak terstruktur (Permendiknas no 22, 2006).

Untuk mengelola dan memantau semua kegiatan siswa dalam perkembangan belajarnya diperlukan pengadministrasian yang tertib, efisien dan efektif. Pengadmisintrasian semua kegiatan siswa dapat dilakukan secara manual menggunakan buku atau lembaran dan dengan cara yang lebih modern dengan menggunakan teknologi informasi.
Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di kalangan guru dan siswa SMAN 1 Metro Lampung (dok. pribadi)
Dalam pengadministrasian yang menggunakan buku atau lembaran mempunyai kelebihan-kelebihan, karena data yang sudah didokumentasikan lebih tahan terhadap kerusakan atau gangguan dan tidak begitu tergantung dengan sarana teknologi informasi serta sarana penunjangnya misalnya ketersediaan listrik, kekuatan sinyal WiFi  dan lain-lain. Tetapi untuk cara ini terdapat beberapa kelemahan seperti penggunaan kertas yang lebih banyak dan memerlukan tempat penyimpanan dokumen yang lebih luas.

 Jika pengadimintrasian menggunakan teknologi informasi, terdapat banyak kelebihan dibandingkan dengan secara manual, sehingga penggunaan sarana ini dalam pengadiministrasian kegiatan siswa akan lebih menghemat biaya, tenaga, waktu dan memiliki keakuratan data yang lebih baik. Email sebagai salah satu produk kemajuan teknologi informasi sangat menunjang dalam membantu pengadministrasian kegiatan siswa. Email dapat digunakan sebagai sarana untuk mengumpulkan berbagai tugas siswa dalam kegiatan belajar.

Pemanfaatan e-mail untuk mengumpulkan tugas para siswa

Kelebihan-kelebihan dalam penggunaan email adalah:
1) Tidak memerlukan kertas, karena tugas tidak perlu dicetak dengan menggunakan kertas.
2) Tidak begitu terikat tempat, karena email dapat dikirim/diterima dari/di mana saja.
3) Waktu tugas dikumpulkan sudah langsung tercatat pada email, sehingga dapat secara langsung dapat diketahui kerajinan/ketepatan waktu dalam mengumpul tugas.
4) Guru dapat secara langsung melihat jam dan tanggal suatu tugas dikirim.
5) Guru dapat segera memberi teguran kepada siswa yang belum mengumpulkan tugas, yang pada akhirnya siswa akan lebih fokus pada proses pembelajaran, sehingga siswa diharapkan dapat bekerja secara teratur.
6) Dengan diselesaikan tugas tepat waktu, siswa sudah cukup memiliki modal pengetahuan untuk mempelajari topik berikutnya.
Sedangkan kelemahannya adalah sangat tergantung dengan keberadaan sarana penunjang teknologi.

Berdasarkan  banyak kelebihan dari email tersebut maka penggunaan email sebagai media atau alat pengunjung kegiatan belajar siswa, akan lebih menghemat biaya. Untuk mengatasi kelemahan penggunaan email sekolah perlu meningkatkan kekuatan sinyal WiFi-nya dan jika dipandang perlu adanya dokumen manual tentang kegiatan siswa cukup dokumen yang memuat rekap hasil penilaian kegiatan siswa.  Oleh sebab itu pemanfaatan email sebagai sarana pembelajaran perlu lebih digalakkan.